Langsung ke konten utama

Rimpu Bukan Hanya Simbolitas Tapi Perekat

Rimpu Bukan Hanya Simbolitas Tapi Perekat
Budaya khas Mbojo yang satu ini, beberapa hari yang lalu mengemparkan DKI dan berbagai media menyorotinya, Dalam kegiatan itu berkumpul para pejabar Pemerintah, TNI, Polri dan masyarakat Mbojo, Menjadikan ajang festival Rimpu sebagai wadah perekat, simpu dan rongga yang selama ini yang tidak pernah kenal dan bertemu, Karena bukti nyata bahwa dalam kegiatan itu sangat meriah dan itulah simpu perekat.
Rimpu ngajarkan kepada masyakat Mbojo untuk menginggat kembali kebiasan baik masyarakt Mbojo yang telah ada dimasa yang lalu, kebiasaan ini adalah suatu pengejawantahan dari nilai-nilai ajaran agama Islam. Sehelai kain sarung yang ditenun dengan rapih dan gigih memberikan suatu penampilan yang anggun dan dapat menjaga harkat dan martabat, Tentu kehormatan orang yang menggunakan Rimpu menandakan adanya pagar penjaga yang kokoh tampa mampu di terobos.

Nilai ajaran yang luar biasa, ini adalah suatu keharusan bahwa budaya Rimpu menjadi perekat buktinya kita melihat pola dasar pembuatan sarung untuk Rimpu yang selalu saling berkaitan walau berbeda warna dan karakter, tapi tetap dalam satu Ikatan yang menunjukan adanya masyarakat Mbojo yang saling bahu membahu dalam gotong royong untuk memperkuat tali persaudaraan sehingga simpu-simpu menjadi satu.

Simbol adalah suatu bukti nyata dimana Rimpu menunjukan identitas masyarakat Mbozo, karena dalam simbol inilah kita dapat melihat makna yang memperkuat persaudaraan diantara masyarakat, Rimpu memiliki makna yang tidak hanya sebatar budaya yang hanya digunakan begitu saja, oleh karena itu Rimpu memiliki pola, nilai estetika, yang menunjukan Rimpu bukanlah cara berpakaian yang biasa-biasa saja, Namun Rimpu adalah budaya masyarakat yang sadar akan nilai keindahan.
Perekat, kata ini penulis kutip dalam rangka menjawab kesalahan orang yang menganggap Rimpu hanyalah kegiatan serimoni belaka, dibalik kata perekat ada unsur yang dibangun dalam kebudayaan Rimpu oleh masyarakat yang dulu mencontohkan Rimpu kepada masyarakat Mbojo, dimana Rimpu ini adalah cara bagi para pendakwah Islam untuk menyampaikan risalah bahwa dengan Rimpu masyarakat Mbojo dapat menerima Islam dengan mudah, tampa ada unsur yang menghalang, karena Islam mengajaran cinta damai, cinta kerjasama, cinta akan perbedaan.
Sekedar coretan

17 JULI 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“BUDAYA SUKU MBOJO”

MAKALAH “BUDAYA SUKU MBOJO” Dibuat Untuk memenuhi tugas mata kuliah “Sejarah Lokal Dan Pembelajaran Sejarah” di susun Oleh: Faidin 1605106 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH SEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2017 PENDAHULUAN a.        Latar belakang Bangsa indonesia memiliki ciri khas budaya daerah yang beranekaragam dengan   ditandai adanya simbol bhineka tunggal ika yang memberikan arti sebagai lambang persatuan   secara harfiah dari kalimat   tersebut dapat di artikan “berbeda tetapi satu”. Dalam perkembangan era globalisasi yang mempengaruhi keadaan masyarakat maka budaya lokal sebagai perekat kesadaran kedaerahan.   Memiliki potensi dan peran sebagai budaya tandigan bagi dominasi budaya global yang dimitoskan sebagai sesuatu yang tidak bisa dielakkan (Fakih, 2003:5). Jadi khasanah budaya lokal dapat menjadi sumber kearifan lokal dalam menghadapi budaya global...

“Rumah Panggung Tinggal Kenangan (Bima) Suku Mbojo”

“Rumah Panggung Tinggal Kenangan (Bima) Suku Mbojo” Rumah Panggung merupakan Rumah yang dipakai oleh masayarakat Bima sebagai tempat tinggal, menjadi tempat untuk melahirkan generasi tangguh, generasi yang akrab dengan nilai gotong royong, pada bulan Juli samapai Agustus 2017. Anak muda dari perantauan pulang untuk menghilangkan rasa lelah dan letih selama didaerah rantauan, ketika diperjalanan anak muda tersebut selalu berpikir   tentang kampung halaman yang indah dan bersih, rumah panggung berjejeran, singkat cerita anak muda tersebut dengan kendaran bus antar kota atau propinsi memasuki wilayah Bima, yang ditandai oleh Tugu Kabupaten Bima, dengan semboyang (Maja Labo Dahu dan Ngahirawi Pahu), dipinggir jalan raya anak muda tersebut melihat disekelilingnya dan merasa kaget yang terluntah-luntah karena perubahan itu sangat drastis, mulai dari jalan yang dulu rusak sekarang sudah diaspal dengan baik. Dipinggirnya berjajaran pandangan Rumah dengan Arsitektur Modern atau dike...

Sejarah Hidup Faidin

Sejarah Hidup Faidin, lahir di Kabupaten Bima kecematan Woha desa Tente pada 12 Maret 1994. Merupakan anak pertama dari pasangan Baharuddin dan Sri Nila Lestari. Penulis mengenyam pendidikan sejak tahun 2000, pendidikan tingkat SD Impres Pucuke diselesaikan tahun 2005-2006, SMP Negeri 1 Woha diselesaikan tahun 2008-2009, SMA Negeri 1 Woha diselesaikan tahun 2011, kemudian penulis menempuh pendidikan jenjang sarjana S1 di jurusan pendidikan sejarah universitas muhammadiyah mataram, sejak 2011 lulus tahun 2016. Adapun skripsi yang ditulis dengan judul “Efektifitas pengunaan model pembelajaran CTL untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran sejarah”. pada tahun 2016 penulis masuk di Universitas Pendidikan Indonesia sebagai mahasiswa Pascasarjana S2 pada Program Studi Pendidikan Sejarah. Aktifitas selama kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia pernah menjadi pemateri pada kegiatan Darul Arkom Dasar IMM komisariat Universitas Pendidikan Indonesia Tahun 2016, pernah j...