Langsung ke konten utama

“Rumah Panggung Tinggal Kenangan (Bima) Suku Mbojo”



“Rumah Panggung Tinggal Kenangan (Bima) Suku Mbojo”

Rumah Panggung merupakan Rumah yang dipakai oleh masayarakat Bima sebagai tempat tinggal, menjadi tempat untuk melahirkan generasi tangguh, generasi yang akrab dengan nilai gotong royong, pada bulan Juli samapai Agustus 2017. Anak muda dari perantauan pulang untuk menghilangkan rasa lelah dan letih selama didaerah rantauan, ketika diperjalanan anak muda tersebut selalu berpikir  tentang kampung halaman yang indah dan bersih, rumah panggung berjejeran, singkat cerita anak muda tersebut dengan kendaran bus antar kota atau propinsi memasuki wilayah Bima, yang ditandai oleh Tugu Kabupaten Bima, dengan semboyang (Maja Labo Dahu dan Ngahirawi Pahu), dipinggir jalan raya anak muda tersebut melihat disekelilingnya dan merasa kaget yang terluntah-luntah karena perubahan itu sangat drastis, mulai dari jalan yang dulu rusak sekarang sudah diaspal dengan baik. Dipinggirnya berjajaran pandangan Rumah dengan Arsitektur Modern atau dikenal dengan Rumah Batu, muncul pertanyaan dibenak anak muda tersebut dimanakah Rumah Panggung yang duli berjajaran rapi nan indah. Selama diperjalanan anak muda tersebut merasa resah dan inggin melihat Rumah Panggung tersebut. setengah jam lewat anak muda pun tiba diterminal Tente yang disuguhi oleh Gedung-Gedung bertinggkat disepanjang jalan.  Membuat anak muda tersebut merasa sedih ternyata perubahan ini sudah betul-betul nyata. Anak muda pun pada pukul 04.00 mencari kendaraan tradisional yang dikenal dengan Benhur atau yang dikenal oleh orang jawa adalah Delman pun sudah sangat langka, saat ini sudah diganti oleh kendaraan yang memiliki tiga roda yang sekarang oleh masyarakat bima menamakanya dengan Bajai. Selama menunggu kendaraan anak muda tidak melihat satupun kendaraan yang lewat, namun sukur ada salah satu kendaraan yang lewat yaitu ojek anak muda pun memangginlnya.
Ojek tersebut berhenti dan mengantarkan anak muda tersebut kerumah, ongkos ketika itu 10 ribu rupiah, sampai dirumah anak muda tersebut bersukur bisa melihat rumahnya yang kokoh dengan Rumah Panggung, dan mengucapkan salam kepada kedua orang tua dan adik-adiknya. Namun pandangan disekeliling Rumah sudah banyak perubahan yang dulu berdiri rumah panggung yang berjejeran sekarang sudah didominasi oleh rumah bata atau rumah batu.
Menengok kembali sejarah bagi masyarakat Bima (mbojo) Rumah atau Uma Ngge’e Kai  merupakan kebutuhan paling pokok dalam kehidupan keluarga. Falsafah masyarakat Bima lama bahwa orang yang baik itu  yang berasal dari keturunan yang baik, harus mempunyai istri yang berbudi mulia, rumah yang kuat dan indah, senjata pusaka yang sakti dan kuda tunggang yang lincah. Rumah menjadi sangat berarti bagi masayarakat bima, karena kebanyakan sarat untuk menikahpun harus seorang laki-laki sudah harus punya rumah sendiri, agar tidak terlantar dirumah mertua semata.
Rumah panggung bima memiliki bentuk dan jenis rumah panggung Bima hampir sama dengan rumah tradisional Makassar dan Bugis. Karena sejarah sudah membuktikan bagaiamana pengaruh dari kerajaan Makassar terhadap kerajaan bima ketika itu, bahasa pun masih ada kemiripan. Di Bima dikenal dua jenis rumah yaitu Uma Panggu Ceko dengan gaya arsitektur tradisional Makassar dan Uma Panggu Pa’a gaya arsitektur tradisional Bugis. Tapi kebanyakan rumah yang ada di Bima saat ini ialah Rumah Penggung arsitektur ceko. Tang sangat diminati oleh masyarakat karena sangat mudah memasang dan membuatnya. Dulu untuk memasang dan memindahkan rumah panggung yaitu dengan cara dogong royong bersama masayarakat satu desa, atau juga satu dusun. Membuat masyarakat ketika itu memiliki rasa yang kuat dalam hal persaudaraaan. Dengan adanya rumah batu saat ini membuat tradisi yang demikian berharga mulai punah dan tinggal kenangan, walaupun masih ada tapi sudah tidak seperti dulu.
Bima dalam sejuta nilai budaya memiliki keunikan tersendiri dalam memilih ukuran atau jumlah bilik rumah Bima tergantung jumlah tiangnya yaitu Sampuru Ini Ri’i (Enam Belas Tiang), Sampuru Dua Ri’I (Dua Belas Tiang), Ciwi Ri’I (Sembilan tiang), Ini Ri’I ( Enam Tiang).  Semua bentuk ini tergantuk minat dan kebutuhan serta dana yang dimiliki oleh masyarakat yang inggin membangun rumah panggung. Rumah panggung Bima saat ini kebanyakan 9 tiang, dan memiliki kamar satu kamar tidur buat kedua orang tua, dan kamar tamu, serta dapur atau dikenal dengan (sancaka) karena sudah menjadi ketentuan adat bagi masayarakat bima membuat sancaka atau dapur. Yang menjadi cirri khas rumah masyarakt bima.
Rumah panggung terbuat dari kayu jati dan kayu hutang yang bagus, dan tahan lama. Atap rumah cukup beragam, disesuaikan dengan status sosial ekonomi para pemilik. Untuk rumah tradisional bima atau rumah lama menggunakan alang-alang yang dirajut tebal. Pada tahun 90-an. Masyarakat kurang mamapu untuk atab rumahnya beratapkan ilalang. Bagi yang tergolong mampu, memakai atap Sante(sejenis sire dari bambu), Genteng, seng, dan khusus Istana Bima beratap Sire yang dibuat dari potongan kayu besi yang sudah dibelah-belah. Namun masyarakat sekarang sudah tidak mau cape lagi menganti daun ilalalng tiap tahun, begitu juga genteng yang terbuat dengan tanah liat sudah mulai ditinggalkan, sekarang masyarakat sudah memakai atab seng.
Sumber: M. Hilir Ismail dkk. 2011. Seni Rupa Mbojo(Seni Rupa Dan Seni Arsitektur).

Pengalaman penulis sendiri.





rumah panggung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“BUDAYA SUKU MBOJO”

MAKALAH “BUDAYA SUKU MBOJO” Dibuat Untuk memenuhi tugas mata kuliah “Sejarah Lokal Dan Pembelajaran Sejarah” di susun Oleh: Faidin 1605106 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH SEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2017 PENDAHULUAN a.        Latar belakang Bangsa indonesia memiliki ciri khas budaya daerah yang beranekaragam dengan   ditandai adanya simbol bhineka tunggal ika yang memberikan arti sebagai lambang persatuan   secara harfiah dari kalimat   tersebut dapat di artikan “berbeda tetapi satu”. Dalam perkembangan era globalisasi yang mempengaruhi keadaan masyarakat maka budaya lokal sebagai perekat kesadaran kedaerahan.   Memiliki potensi dan peran sebagai budaya tandigan bagi dominasi budaya global yang dimitoskan sebagai sesuatu yang tidak bisa dielakkan (Fakih, 2003:5). Jadi khasanah budaya lokal dapat menjadi sumber kearifan lokal dalam menghadapi budaya global...

Sejarah Hidup Faidin

Sejarah Hidup Faidin, lahir di Kabupaten Bima kecematan Woha desa Tente pada 12 Maret 1994. Merupakan anak pertama dari pasangan Baharuddin dan Sri Nila Lestari. Penulis mengenyam pendidikan sejak tahun 2000, pendidikan tingkat SD Impres Pucuke diselesaikan tahun 2005-2006, SMP Negeri 1 Woha diselesaikan tahun 2008-2009, SMA Negeri 1 Woha diselesaikan tahun 2011, kemudian penulis menempuh pendidikan jenjang sarjana S1 di jurusan pendidikan sejarah universitas muhammadiyah mataram, sejak 2011 lulus tahun 2016. Adapun skripsi yang ditulis dengan judul “Efektifitas pengunaan model pembelajaran CTL untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran sejarah”. pada tahun 2016 penulis masuk di Universitas Pendidikan Indonesia sebagai mahasiswa Pascasarjana S2 pada Program Studi Pendidikan Sejarah. Aktifitas selama kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia pernah menjadi pemateri pada kegiatan Darul Arkom Dasar IMM komisariat Universitas Pendidikan Indonesia Tahun 2016, pernah j...