Langsung ke konten utama

Bima Inspirasi


Bima Inspirasi
oleh : Faidin Parewa
Dou Mbojo adalah orang yang mediami daerah di ujung Timur pulau Sumbawa yang dikenal daerah yang berbusur, karena banyak perbukitan disekitarnya, sekarang daerah Mbojo ini menjadi suatu kabupaten dan kota dengan nama Bima, kabupaten dan kota ini memiliki sejarah panjang mulai dari masa kerajaan, Hindu, Budha, penjajahan Belanda, Jepang, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, memiliki  peran strategis dalam memperjuangkan bangsa ini. tidak heran kemudian anak-anak bima berperan deengan aktif dalam organisasi, baik politik, kemasyarakatan, ekonomi dll.
Bima inspirasi dalam koteks historis maka Bima sudah memiliki perang yang cukup banyak, dalam memperjuangkan negara ini, banyak masyarakat Bima sejak dulu berjuang melawan penjajah belanda-jepang, dalam pertempuran, diplomasi dll. Ini menunjukkan adan suatu kecenderungan perjuangan yang tak kenal mengalah walaupun dalam pertempuran mereka kalah dalam alat tempur, namun semangat membara, yang berapi apai demi melawan para penjajah, mereka rela tidak tiidur temi menjaga wilayah NKRI, mereka pula tidak pernah takut ketika ada musuh mau mati atau tidak mereka tetap berada pada koridor perjuangan.
Inilah suatu semangat membara para tokoh yang ada di Ngalai, Dena, dan Donggo ketika masa penjajahan para tokoh masyarakat menjadi pelopor utam dan di daerah yang lain pun memiliki peran baik Tente, Talabiu, Sila, Monta, Tangga, Parado, Sape, Langudu, Wawo, Wera. hanya saja sejarah yang melewati penulisan itu apa lagi perjuangan orang-orang yang ada dipesisir Bima. Suatu apresiasi yang harus diberikan oleh masyarakat atau pemerintah tentu dengan cara menghargai sejarah dan para pejuang dengan memahami nilai-nilai perjuangan yang telah mereka lakukan.
Masyarakat Bima harus melakukan intropeksi diri, dalam rangka untuk membebaskan dinamika internal yang sama-selaki tidak penting dipersoalkan, bagaimana sekarang masyarakat Bima harus sadar bahwa sekarang lagi berada pada zaman yang edan yang perlu ada perbaikan dan perubahan. Agar dapat menjawab tantangan masa depan. Konflik internal bukanlah suatu yang harus berlangsung terus menerus. Tapi belajarlah dari kesalahan hari ini, karena jangan lupa anak, peserta didik, menjadi generasi akan datang, jangan samapai generasi ini mendapat dampak buruk dari lingkungan yang tidak memiliki etika sosial, etika tentu saling menjaga, mengahargai, subuah perbedaan dalam masyarakat.
Masalah akan terus menambah beban pemerintah sengangga menghambat proses kesejahteraan, proses kehidupan bermasyarakat. Masyarakat bima harus malu dengan keadaan yang demikian, karena banyak daerah lain sudah lebih maju dan meninggalkan masyarakat bima. Dalam hal ekonomi, sosial, budaya, eknologi. Keburukan-keburukan janganlah dipelihara, tapi bangaimana caranya dilepas sejauh mungkin. Dalam rungan yang terbuka.
 Anak-anak Bima Butuh Perhatian.
 Lingkungan Bima
 Rumah Bima
 Senyuman anak Bima butuh perhatian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Hidup Faidin

Sejarah Hidup Faidin, lahir di Kabupaten Bima kecematan Woha desa Tente pada 12 Maret 1994. Merupakan anak pertama dari pasangan Baharuddin dan Sri Nila Lestari. Penulis mengenyam pendidikan sejak tahun 2000, pendidikan tingkat SD Impres Pucuke diselesaikan tahun 2005-2006, SMP Negeri 1 Woha diselesaikan tahun 2008-2009, SMA Negeri 1 Woha diselesaikan tahun 2011, kemudian penulis menempuh pendidikan jenjang sarjana S1 di jurusan pendidikan sejarah universitas muhammadiyah mataram, sejak 2011 lulus tahun 2016. Adapun skripsi yang ditulis dengan judul “Efektifitas pengunaan model pembelajaran CTL untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran sejarah”. pada tahun 2016 penulis masuk di Universitas Pendidikan Indonesia sebagai mahasiswa Pascasarjana S2 pada Program Studi Pendidikan Sejarah. Aktifitas selama kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia pernah menjadi pemateri pada kegiatan Darul Arkom Dasar IMM komisariat Universitas Pendidikan Indonesia Tahun 2016, pernah j...

Rimpu Bukan Hanya Simbolitas Tapi Perekat

Rimpu Bukan Hanya Simbolitas Tapi Perekat Budaya khas Mbojo yang satu ini, beberapa hari yang lalu mengemparkan DKI dan berbagai media menyorotinya, Dalam kegiatan itu berkumpul para pejabar Pemerintah, TNI, Polri dan masyarakat Mbojo, Menjadikan ajang festival Rimpu sebagai wadah perekat, simpu dan rongga yang selama ini yang tidak pernah kenal dan bertemu, Karena bukti nyata bahwa dalam kegiatan itu sangat meriah dan itulah simpu perekat. Rimpu ngajarkan kepada masyakat Mb ojo untuk menginggat kembali kebiasan baik masyarakt Mbojo yang telah ada dimasa yang lalu, kebiasaan ini adalah suatu pengejawantahan dari nilai-nilai ajaran agama Islam. Sehelai kain sarung yang ditenun dengan rapih dan gigih memberikan suatu penampilan yang anggun dan dapat menjaga harkat dan martabat, Tentu kehormatan orang yang menggunakan Rimpu menandakan adanya pagar penjaga yang kokoh tampa mampu di terobos. Nilai ajaran yang luar biasa, ini adalah suatu keharusan bahwa budaya Rimpu menjadi pere...

“BUDAYA SUKU MBOJO”

MAKALAH “BUDAYA SUKU MBOJO” Dibuat Untuk memenuhi tugas mata kuliah “Sejarah Lokal Dan Pembelajaran Sejarah” di susun Oleh: Faidin 1605106 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH SEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2017 PENDAHULUAN a.        Latar belakang Bangsa indonesia memiliki ciri khas budaya daerah yang beranekaragam dengan   ditandai adanya simbol bhineka tunggal ika yang memberikan arti sebagai lambang persatuan   secara harfiah dari kalimat   tersebut dapat di artikan “berbeda tetapi satu”. Dalam perkembangan era globalisasi yang mempengaruhi keadaan masyarakat maka budaya lokal sebagai perekat kesadaran kedaerahan.   Memiliki potensi dan peran sebagai budaya tandigan bagi dominasi budaya global yang dimitoskan sebagai sesuatu yang tidak bisa dielakkan (Fakih, 2003:5). Jadi khasanah budaya lokal dapat menjadi sumber kearifan lokal dalam menghadapi budaya global...