Senja Menyapa Rasa Mbojo
Cahaya bersinar di ufuk
Timur, yang diselimuti awan yang hingar bingar, pencerahan datang untuk setiap
insan. Kehebatan cahaya memberikan kehidupan nyata bagi umat manusia, dengan
hamparan sinarnya tumbuhan mulai memekar dan membesar, tubuh dengan dengan
kedamaian. Diiringi lagu agin yang gemurung. Menjadikan mahluk terpenuhi
oksigen dalam tubuhnya. Menjadikan hidup penuh semerbak. Untaian hujan
menyirami bumi dengan tumbuh dan berkembang kehidupan, tangan terbaik mengengam
pena melukiskan indahnya gambaran awan, diatas kerta langit yang membiru, membawa
nilai esetetika yang begitu indah. Jarak bukan penghalang untuknya memberi
peluang bagi umatnya dalam kehidupan. Disiapkan tumbuhan, hewan buat dikelola
dan dijaga. Perekonomian stabil karena cinta alam. Bahagia manusia dilimpahkan
kenikmatan. Menjaga hasil alam itulah yang harus dibina, sebagaimana hamparan
sawah yang luas dipandang. Membuat mata terpesona, jika didalamnya tertanam
biji yang nyata, maka akan tumbuh seribu buah yang indah dan cemerlang. Bima
menjulang tinggi gunung-gunung menjadi tiang penyanggah yang kokoh, dengan
sanubari tertanam di dana Mbojo. Maja labo dahu, pelopor kehidupan ndai Mbojo.
Cahaya menjadi penyinar kehidupan buat sang Bima, masyarakat di ayomi. Sehingga
lahir penerus yang cinta akan kedamaian, yang dapat mengelola dan memelihara
rasa ro dembi. Menjadi contoh itulah yang terbaik buat rasa ro dana Mbojo.
Komentar
Posting Komentar