Langsung ke konten utama

Senja Menyapa Rasa Mbojo


Senja Menyapa Rasa Mbojo

Cahaya bersinar di ufuk Timur, yang diselimuti awan yang hingar bingar, pencerahan datang untuk setiap insan. Kehebatan cahaya memberikan kehidupan nyata bagi umat manusia, dengan hamparan sinarnya tumbuhan mulai memekar dan membesar, tubuh dengan dengan kedamaian. Diiringi lagu agin yang gemurung. Menjadikan mahluk terpenuhi oksigen dalam tubuhnya. Menjadikan hidup penuh semerbak. Untaian hujan menyirami bumi dengan tumbuh dan berkembang kehidupan, tangan terbaik mengengam pena melukiskan indahnya gambaran awan, diatas kerta langit yang membiru, membawa nilai esetetika yang begitu indah. Jarak bukan penghalang untuknya memberi peluang bagi umatnya dalam kehidupan. Disiapkan tumbuhan, hewan buat dikelola dan dijaga. Perekonomian stabil karena cinta alam. Bahagia manusia dilimpahkan kenikmatan. Menjaga hasil alam itulah yang harus dibina, sebagaimana hamparan sawah yang luas dipandang. Membuat mata terpesona, jika didalamnya tertanam biji yang nyata, maka akan tumbuh seribu buah yang indah dan cemerlang. Bima menjulang tinggi gunung-gunung menjadi tiang penyanggah yang kokoh, dengan sanubari tertanam di dana Mbojo. Maja labo dahu, pelopor kehidupan ndai Mbojo. Cahaya menjadi penyinar kehidupan buat sang Bima, masyarakat di ayomi. Sehingga lahir penerus yang cinta akan kedamaian, yang dapat mengelola dan memelihara rasa ro dembi. Menjadi contoh itulah yang terbaik buat rasa ro dana Mbojo.   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Hidup Faidin

Sejarah Hidup Faidin, lahir di Kabupaten Bima kecematan Woha desa Tente pada 12 Maret 1994. Merupakan anak pertama dari pasangan Baharuddin dan Sri Nila Lestari. Penulis mengenyam pendidikan sejak tahun 2000, pendidikan tingkat SD Impres Pucuke diselesaikan tahun 2005-2006, SMP Negeri 1 Woha diselesaikan tahun 2008-2009, SMA Negeri 1 Woha diselesaikan tahun 2011, kemudian penulis menempuh pendidikan jenjang sarjana S1 di jurusan pendidikan sejarah universitas muhammadiyah mataram, sejak 2011 lulus tahun 2016. Adapun skripsi yang ditulis dengan judul “Efektifitas pengunaan model pembelajaran CTL untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran sejarah”. pada tahun 2016 penulis masuk di Universitas Pendidikan Indonesia sebagai mahasiswa Pascasarjana S2 pada Program Studi Pendidikan Sejarah. Aktifitas selama kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia pernah menjadi pemateri pada kegiatan Darul Arkom Dasar IMM komisariat Universitas Pendidikan Indonesia Tahun 2016, pernah j...

GANTAO VERSI-VERSIAN

GANTAO VERSI-VERSIAN Budaya merupakan suatu kebiasaan masyarakat yang memiliki nilai estetik, keyataanya budaya banyak versi budaya baik dlam tara seni, lukisa, novel, prosa, yang selalu direduksi dalam suatu komunitas budaya, ada jaga dalam sisi kepercayaan,  dimana dalam masyarakat ada suatu kepercayaan animisme dan nidamisme, yang tentu sudah melahirkan suatu bentuk budaya yang memiliki nilai reliji, yang sangat tinggi.  tapi penulis disini melihat budaya dalam kondisi seni, seni banyak orang menggangap seni adalah sesuatu yang indah, cantik, ganteng, wah. yang saya pahami seni itu tidak pada rasah kendahan melainkan dalam ranah yang lebih kompleks dimana melihat suatu budaya salah satunya Mpaa Gantao, didalamnya terdapat banyak atraksi, tentu kajiannya melihat permainan Gantao dari segala sisi, baik kegunaan gantao ini untuk apa bagi masyarakat, baik dalam ranah, sosial, ekonomi, pendidikan bahkan keagamaan. tentu harus dikaji semuanya, agar menghasilkan makna yang san...

Rimpu Bukan Hanya Simbolitas Tapi Perekat

Rimpu Bukan Hanya Simbolitas Tapi Perekat Budaya khas Mbojo yang satu ini, beberapa hari yang lalu mengemparkan DKI dan berbagai media menyorotinya, Dalam kegiatan itu berkumpul para pejabar Pemerintah, TNI, Polri dan masyarakat Mbojo, Menjadikan ajang festival Rimpu sebagai wadah perekat, simpu dan rongga yang selama ini yang tidak pernah kenal dan bertemu, Karena bukti nyata bahwa dalam kegiatan itu sangat meriah dan itulah simpu perekat. Rimpu ngajarkan kepada masyakat Mb ojo untuk menginggat kembali kebiasan baik masyarakt Mbojo yang telah ada dimasa yang lalu, kebiasaan ini adalah suatu pengejawantahan dari nilai-nilai ajaran agama Islam. Sehelai kain sarung yang ditenun dengan rapih dan gigih memberikan suatu penampilan yang anggun dan dapat menjaga harkat dan martabat, Tentu kehormatan orang yang menggunakan Rimpu menandakan adanya pagar penjaga yang kokoh tampa mampu di terobos. Nilai ajaran yang luar biasa, ini adalah suatu keharusan bahwa budaya Rimpu menjadi pere...