Maja labo Dahu (Malu dan Takut)
Perkembangan pemikiran serta
falsafah hidup masyarakat Bima tidak terlepas dari pengaruh paradigma islam. Secara
historis dapat membujuk dan merayu masyarakat Bima pada masa masuk nya Islam di
Bima. Memberikan andil yang cukup besar terhadap perkembangan pemahan dan
keyakinan, sehingga berbalik arah seratus derajat dari sebelunya menganut Hindu-Budha
menjadi masyarakat Islam yang taat. Tentu ini semua tidak terlepas dari para
pemimpin Bima baik masa sultan Abdul Kahir sampai sultan Salahuddin yang
menonjolkan Islam sebagai agama kebaikan dan kedamain. Keyakinan ini menjadi
suatu pola pikir baru bagi masyarakt Bima yang telah taat dan tunduk pada yang
maha kuasa. Dengan ketaan ini menjadikan pemikiran masyarakat untuk melahirkan
suatu falsafah hidup bagi masyarakat Bima dengan sebutan Maja Labo Dahun, maja
diartikan sebagai suatu prinsi harus selalu malu untuk berbuat hal-hal yang
diluar batas norma susila dan dahu yang diartikan takut sebagai prinsip harus
takut untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama (Kitab BO sangajikai,
Maryam, S. & Chamber, 2012).
Prinsi ini bisa diibaratkan suatu
hubungan hablum minannas atau hubungan sesama manusia harus terus dibangun baik
sosial, budaya, politik, ekonomi, pendidikan, harus menjadi prioritas utama
bagi para pemerintah Bima Saat ini karena prinsip ini harus dapat diterapkan
dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai proses pencegahan konflik, peperangan, kerusuhan,
pembunuha, perampokan, pencurian dll. Prinsip kedua ialah bagaimana hubungan
hablum minallah, prinsip manusia sebagai mahluk tentu harus tunduk dan patuh
pada sang pencipta. Sebagai hubungan spiritual yang tampa batas, ini pula
seharusnya menjadi peluang bagi pemerintah memanfaatkan kegiatan keagaman,
sebagai bentuk ketundukan dan membangun kesadaran masyarakat Bima untuk tetap
taat dan patuh pada tuhannya. Dengan cara membangun masjid, berdakwah, majelis
ilmu yang dipelopori oleh pemerintah agar menjadi contoh sehingga bisa
masyarakat meneladaninya. Maka jangan heran kemudia ketika pemerintah tidak
bisa dijadikan contoh maka akan menjadi bahaya besar buat pemerinta, jadikan
prinsip ketuhanan sebagai cara untuk sadar dan ketaatan sehingga dapat
mengurangi perjinaha, nikah diusia dini, perceraian, dan perilaku buruk lainnya.
Ketika prinsip ketahuidan ini dapat diaplikasikan dan didakwahkan oleh
pemerintah kepada masyarakatnya otomatis kesejahteraan dan kemakmuran akan
terjadi.
Pemerinta Bima harus menjadi
tolak ukur dan bisa menjadi contoh bagi daerah lain khusus di NTB, kenapa
kerena potensi dan generasi baik pemuda serta para intelektual dan ilmuan sudah
sangat banyak, tentu potensi yang demikian harus dimanfaatkan dan diberi
peluang untuk membangun daerah jangan memandang sebelah mata, hanya melihat
unsur didepan mata, tapi lihat dengan keterbukaan baik dalam hal pendidikan
saja manfaatkan generasi yang berpotensi untuk membangun daerah, jangan mereka
tidak dilihat dan dipandang karena Bima adalah tempat lahir mereka dan
dibesarkan, dan pemikiran mereka pula bila dimanfaatkan akan dapat membangun
daerah. pemikiran yang kolot harus mulai ditinggalkan, bagimana potensi
kelokalan harus dimanfaatkan banyak sekali ponsi sejarah yang bisa dicontohi
dan bisa memiliki nilai ekonomi bila dikelola dengan baik, begitupun wisata
sangat berlimpah namun pengelolaannya tidak teratur seharusnya pemerintah Bima melihat
potensi itu sebagai surga yang dapat membangun daerah Bima, bukan malah
dianggap sebagai negaraka yang merusak Bima.
Salam Anak Rantau.
Komentar
Posting Komentar