Langsung ke konten utama

Kareku Kandei



Kareku Kandei

Kareku kandei merupakan salah satu wujud syukur masyarakat bima atas limpahan rahma tuhan dalam bidang pertanian. Kareku kandei merupakan tradisi suku mbojo (Bima) dengan peran utama oleh kaum wanita, baik para gadis maupun kalangan ibu-ibu. Mereka memukul lesung (wadah padi) kosong yang terbuat dari batang pohon dengan alat pukul yang terbuat dari kayu nangka serta sebilah bambu atau dalam masyarakat Bima dikenal dengan alu atau aru. Sedangkan lesung (kandei) terbuat dari jenis kayu nangka. Karena jenis kayu ini dinilai sangat bagus dan menggema suarannya. Sedangkan kareku artinya memukul dimaknai oleh masyarakat Bima sebagai panggilan dan pemberitahuan untuk masyarakat agar segera hadir dalam kegiatan gotong royong kebiasaan dulu yaitu dikenal dengan mbaju ndiha adalah salah satu wujud kegotog royongan hidup masyarakat dalam berbagai acara upacara budaya atau kegiatan keagamaan di tengah masyarakat, keluarga, tentangga datang dengan membawa hasil-hasil pertanian berupa padi, jagung, untuk diserahkan kepada keluarga yang berhajat sebagai bentuk bantuan atau urunan untuk meringankan beban yang sedang melakukan acara.  
Adapun manfaat kareku kandei adalah untuk mengumpulkan masyarakat mbojo (Bima) khususnya para wanita. Dengan danyan tradisi ini wanita mbojo pada massa itu menjalin silaturahmi dan mempererat tali persaudaraan. Tradisi ini memiliki keunikan yang terletak pada bunyi pukulan yang keluar dari lesung. Tradisi ini seharusnya menjadi perhatian bagi pemerintah untuk menjaganya tentu lewat penerapan dalam pendidikan, agar nilai lokal budaya Bima dapat dijaga dan diingat serta dicintai oleh generasi penerus Bima, karena untuk membentuk kesadaran ini pemerintah dapat bekerja sama dengan berbagai pihak terutama dalam menyusu rancangan pelaksanaannya. Sebagai materi yang bermakna, dan tidak hanya budaya ini saja yang disampaikan bagaimana seluruh budaya bima yang ada harus mendapat perhatian khusus pemerintah. Karena kapan lagi kalau bukan sekarang dilakukan. Pemerinta Bima harus berpikir sepuluh tahun atau dupuluh tahun kedepan akan seperti apa daerah Bima kalau tidak ditata dan direkonstruksi semua kebudayaan yang ada. Pemerintah menjadi pioner untuk menjaga eksistensi budaya, terlepas dari pada peran masyarakat itu sendiri. pemerintah adalah agen yang memiliki kebijakan yang bisa melaksanakan perubahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“BUDAYA SUKU MBOJO”

MAKALAH “BUDAYA SUKU MBOJO” Dibuat Untuk memenuhi tugas mata kuliah “Sejarah Lokal Dan Pembelajaran Sejarah” di susun Oleh: Faidin 1605106 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH SEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2017 PENDAHULUAN a.        Latar belakang Bangsa indonesia memiliki ciri khas budaya daerah yang beranekaragam dengan   ditandai adanya simbol bhineka tunggal ika yang memberikan arti sebagai lambang persatuan   secara harfiah dari kalimat   tersebut dapat di artikan “berbeda tetapi satu”. Dalam perkembangan era globalisasi yang mempengaruhi keadaan masyarakat maka budaya lokal sebagai perekat kesadaran kedaerahan.   Memiliki potensi dan peran sebagai budaya tandigan bagi dominasi budaya global yang dimitoskan sebagai sesuatu yang tidak bisa dielakkan (Fakih, 2003:5). Jadi khasanah budaya lokal dapat menjadi sumber kearifan lokal dalam menghadapi budaya global...

“Rumah Panggung Tinggal Kenangan (Bima) Suku Mbojo”

“Rumah Panggung Tinggal Kenangan (Bima) Suku Mbojo” Rumah Panggung merupakan Rumah yang dipakai oleh masayarakat Bima sebagai tempat tinggal, menjadi tempat untuk melahirkan generasi tangguh, generasi yang akrab dengan nilai gotong royong, pada bulan Juli samapai Agustus 2017. Anak muda dari perantauan pulang untuk menghilangkan rasa lelah dan letih selama didaerah rantauan, ketika diperjalanan anak muda tersebut selalu berpikir   tentang kampung halaman yang indah dan bersih, rumah panggung berjejeran, singkat cerita anak muda tersebut dengan kendaran bus antar kota atau propinsi memasuki wilayah Bima, yang ditandai oleh Tugu Kabupaten Bima, dengan semboyang (Maja Labo Dahu dan Ngahirawi Pahu), dipinggir jalan raya anak muda tersebut melihat disekelilingnya dan merasa kaget yang terluntah-luntah karena perubahan itu sangat drastis, mulai dari jalan yang dulu rusak sekarang sudah diaspal dengan baik. Dipinggirnya berjajaran pandangan Rumah dengan Arsitektur Modern atau dike...

Sejarah Hidup Faidin

Sejarah Hidup Faidin, lahir di Kabupaten Bima kecematan Woha desa Tente pada 12 Maret 1994. Merupakan anak pertama dari pasangan Baharuddin dan Sri Nila Lestari. Penulis mengenyam pendidikan sejak tahun 2000, pendidikan tingkat SD Impres Pucuke diselesaikan tahun 2005-2006, SMP Negeri 1 Woha diselesaikan tahun 2008-2009, SMA Negeri 1 Woha diselesaikan tahun 2011, kemudian penulis menempuh pendidikan jenjang sarjana S1 di jurusan pendidikan sejarah universitas muhammadiyah mataram, sejak 2011 lulus tahun 2016. Adapun skripsi yang ditulis dengan judul “Efektifitas pengunaan model pembelajaran CTL untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran sejarah”. pada tahun 2016 penulis masuk di Universitas Pendidikan Indonesia sebagai mahasiswa Pascasarjana S2 pada Program Studi Pendidikan Sejarah. Aktifitas selama kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia pernah menjadi pemateri pada kegiatan Darul Arkom Dasar IMM komisariat Universitas Pendidikan Indonesia Tahun 2016, pernah j...