Langsung ke konten utama

Sejarah Mbojo (Bima)

Sejarah Mbojo (Bima)

Pada cacatan sejarah Bima adalah suatu daerah busur, yang memiliki keunikan dan teri torial yang terjal, gunung-gunung yang mengelilinginya, sehingga menjadi suatu pembeda dan pemisah dengan daerah yang lain, kecematan, desa yang ada. dulu peran Ncuhi sangat penting dalam masyarakat Bima, yang menentukan perkembangan ekonomi, sosial, politik masyarakat. untuk itu Ncuhi di wilayah selatan dikenal dengan nama Parewa, adalah nama yang sangat unik dan berbeda dengan yang lain yang menguasai wilayah selatan Bima, menyebabkan sampai sekarang walau masyarakat bima mayoritas Islam, akan tetapi kepercayaan kakamba ma kakimbi masih terus berjalan, dengan melaksanakan uacara adat, melakukan makan bubur disawah, dll.
Bima adalah daerah yang berada paling timur NTB menjadi pusat perdagangan ketika masa kerajaan, dan sampai sekaranng pelabuhan Bima menjadi tujuan dan penyebrangan perdagangan (ekonomi). kebanykan masyarakat Bima, bertani, berdagang, beternak, dan menjadi nelayan. proffesi ini sudah terbesit dalam jiwa masyarakat bima, maja labo dahu. menjadi samboyan faforit Bima.
Sekiranya Bima harus menjadi aikon, tempat wisata yang terlimpah rua, tapi tidak mampu diurus dengan baik (kelola), ini memberikan arti bahwa pemerintah Bima belum mampu menjawab potensi yang ada jalan menuju tempat wisata kebanyakan dan rata-rata masih belum Aspal, sehingga membuat para pengunjung itu jenuh dan merasa dirugikan, karena jalan yang tidak diharapkan rusah ternyata masih rusak. pemerinta Bima harus menggambil kebijakan, bagi pengembangan daerah.
Bima milik kita bersama.
Dou Mbojo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Hidup Faidin

Sejarah Hidup Faidin, lahir di Kabupaten Bima kecematan Woha desa Tente pada 12 Maret 1994. Merupakan anak pertama dari pasangan Baharuddin dan Sri Nila Lestari. Penulis mengenyam pendidikan sejak tahun 2000, pendidikan tingkat SD Impres Pucuke diselesaikan tahun 2005-2006, SMP Negeri 1 Woha diselesaikan tahun 2008-2009, SMA Negeri 1 Woha diselesaikan tahun 2011, kemudian penulis menempuh pendidikan jenjang sarjana S1 di jurusan pendidikan sejarah universitas muhammadiyah mataram, sejak 2011 lulus tahun 2016. Adapun skripsi yang ditulis dengan judul “Efektifitas pengunaan model pembelajaran CTL untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran sejarah”. pada tahun 2016 penulis masuk di Universitas Pendidikan Indonesia sebagai mahasiswa Pascasarjana S2 pada Program Studi Pendidikan Sejarah. Aktifitas selama kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia pernah menjadi pemateri pada kegiatan Darul Arkom Dasar IMM komisariat Universitas Pendidikan Indonesia Tahun 2016, pernah j...

Rimpu Bukan Hanya Simbolitas Tapi Perekat

Rimpu Bukan Hanya Simbolitas Tapi Perekat Budaya khas Mbojo yang satu ini, beberapa hari yang lalu mengemparkan DKI dan berbagai media menyorotinya, Dalam kegiatan itu berkumpul para pejabar Pemerintah, TNI, Polri dan masyarakat Mbojo, Menjadikan ajang festival Rimpu sebagai wadah perekat, simpu dan rongga yang selama ini yang tidak pernah kenal dan bertemu, Karena bukti nyata bahwa dalam kegiatan itu sangat meriah dan itulah simpu perekat. Rimpu ngajarkan kepada masyakat Mb ojo untuk menginggat kembali kebiasan baik masyarakt Mbojo yang telah ada dimasa yang lalu, kebiasaan ini adalah suatu pengejawantahan dari nilai-nilai ajaran agama Islam. Sehelai kain sarung yang ditenun dengan rapih dan gigih memberikan suatu penampilan yang anggun dan dapat menjaga harkat dan martabat, Tentu kehormatan orang yang menggunakan Rimpu menandakan adanya pagar penjaga yang kokoh tampa mampu di terobos. Nilai ajaran yang luar biasa, ini adalah suatu keharusan bahwa budaya Rimpu menjadi pere...

“BUDAYA SUKU MBOJO”

MAKALAH “BUDAYA SUKU MBOJO” Dibuat Untuk memenuhi tugas mata kuliah “Sejarah Lokal Dan Pembelajaran Sejarah” di susun Oleh: Faidin 1605106 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH SEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2017 PENDAHULUAN a.        Latar belakang Bangsa indonesia memiliki ciri khas budaya daerah yang beranekaragam dengan   ditandai adanya simbol bhineka tunggal ika yang memberikan arti sebagai lambang persatuan   secara harfiah dari kalimat   tersebut dapat di artikan “berbeda tetapi satu”. Dalam perkembangan era globalisasi yang mempengaruhi keadaan masyarakat maka budaya lokal sebagai perekat kesadaran kedaerahan.   Memiliki potensi dan peran sebagai budaya tandigan bagi dominasi budaya global yang dimitoskan sebagai sesuatu yang tidak bisa dielakkan (Fakih, 2003:5). Jadi khasanah budaya lokal dapat menjadi sumber kearifan lokal dalam menghadapi budaya global...