Langsung ke konten utama

Postingan

Beretos Kerja Masyarakat Bima dalam Mengerjakan Tugas

  Patu Lopi Penge   Ai lopi e ai penge ai Lopi Penge Ta loja ngengge moti ai lojae ai nggengge Ai lojae nggengge e moti na’e ma nggonggi Ai loja e ai diwira ai loja ai diwira e Kuha niwa wati ru wara   Artinya Duhai perahu duhai sampan duhai Perahu Sampan Marilah berlayar mengarungi lautan duhai berlayar duhai mengarungi Duhai berlayar mengarungi lautan lepas yang sulit ditaklukan Duhai berlayar duhai dihempas duhai berlayar duhai dihempas Sarang lebah sudah tiada   Penjelasan Penggalan bait kapatu Lopi Penge tersebut menceritakan kesedihan hati nelayan. Ia merasa sedih karena tidak adanya hal yang dapat mencukupi kehidupannya. Hal itu ditekankan dengan kalimat “kuha niwa watiru wara” yang artinya tidak ada lagi persediaan. Ia berharap, ia dapat menemukan harapan kehidupan kelak. Walaupun lautan yang ia tempuh sangatlah berbahaya. Melalui penggalan bait Kapatu tersebut merepresentasikan sikap nelayan masyarakat Bima yang memiliki sikap...
Postingan terbaru

SULTAN MUHAMMAD SALAHUDDIN

Sultan Muhammad Salahuddin, Adalah Tokoh Pejuang Tampa Pamrih, yang sangat dibanggakan Masyarakat Bima, karena bangnya masyarakat saat ini Namanya dijadikan Nama Jalan, Masjid, Bahkan Bandara Udara Bima, semua itu bentuk dan cara Pemerintah dan masyarakat dalam mengingat perjuangan Sulta Muhammad Salahuddin. Perjuangannya, mengigatkan kita hari ini, ketika beliau menyiapkan generasi dengan mendirikan sekolah dan bahkan memberikan beasiswa dan mengirim generasi di Bima pada waktu itu ke dunia Arab  dan pulau Jawa untuk belajar ilmu pengetahuan. Tentunya generasi itu menjadi penerus keberlanjutan bangsa Indonesia. ini adalah peran Sultan Muhammad Salahuddin untuk daerah Bima dan bangsa Indonesia. Pada masa Itu, beliau selalu mengajarkan nilai-nilai relijius, intelektual, dan sosial. kepada generasi penerus. Sultan Muhammad Salahuddin, Adalah Tokoh yang sangat berjasa bagi tegakknya bangsa Indonesia, Tidak kenal Lelah dan tidak kenal putus asa, selalu konsisten dalam jalan per...

Rimpu Bukan Hanya Simbolitas Tapi Perekat

Rimpu Bukan Hanya Simbolitas Tapi Perekat Budaya khas Mbojo yang satu ini, beberapa hari yang lalu mengemparkan DKI dan berbagai media menyorotinya, Dalam kegiatan itu berkumpul para pejabar Pemerintah, TNI, Polri dan masyarakat Mbojo, Menjadikan ajang festival Rimpu sebagai wadah perekat, simpu dan rongga yang selama ini yang tidak pernah kenal dan bertemu, Karena bukti nyata bahwa dalam kegiatan itu sangat meriah dan itulah simpu perekat. Rimpu ngajarkan kepada masyakat Mb ojo untuk menginggat kembali kebiasan baik masyarakt Mbojo yang telah ada dimasa yang lalu, kebiasaan ini adalah suatu pengejawantahan dari nilai-nilai ajaran agama Islam. Sehelai kain sarung yang ditenun dengan rapih dan gigih memberikan suatu penampilan yang anggun dan dapat menjaga harkat dan martabat, Tentu kehormatan orang yang menggunakan Rimpu menandakan adanya pagar penjaga yang kokoh tampa mampu di terobos. Nilai ajaran yang luar biasa, ini adalah suatu keharusan bahwa budaya Rimpu menjadi pere...

Sejarah Hidup Faidin

Sejarah Hidup Faidin, lahir di Kabupaten Bima kecematan Woha desa Tente pada 12 Maret 1994. Merupakan anak pertama dari pasangan Baharuddin dan Sri Nila Lestari. Penulis mengenyam pendidikan sejak tahun 2000, pendidikan tingkat SD Impres Pucuke diselesaikan tahun 2005-2006, SMP Negeri 1 Woha diselesaikan tahun 2008-2009, SMA Negeri 1 Woha diselesaikan tahun 2011, kemudian penulis menempuh pendidikan jenjang sarjana S1 di jurusan pendidikan sejarah universitas muhammadiyah mataram, sejak 2011 lulus tahun 2016. Adapun skripsi yang ditulis dengan judul “Efektifitas pengunaan model pembelajaran CTL untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran sejarah”. pada tahun 2016 penulis masuk di Universitas Pendidikan Indonesia sebagai mahasiswa Pascasarjana S2 pada Program Studi Pendidikan Sejarah. Aktifitas selama kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia pernah menjadi pemateri pada kegiatan Darul Arkom Dasar IMM komisariat Universitas Pendidikan Indonesia Tahun 2016, pernah j...

Budaya Mbojo VS Budaya Sunda

Budaya Mbojo VS Budaya Sunda Kebudayaan adalah hasil karya cipta umat manusia. Keberadaan budaya dimasing-masing daerah, negara, dan dunia. Merupakan tanda bahwa adanya suatu kehidupan yang seimbang, keseimbangan itu karena adanya kesesuaian diantara masyarakat. antara budaya Mbojo dan Sunda merupakan dua kebudayaan yang sangat berbeda, mulai dari bahasa, kebudayaa, dan karakter. Tulisan ini akan menyoroti karakter dari masing-masing dua budaya ini, karena penulis menyadari adanya perbedaan yang sangat signifikan, antara dua kebudayaan yang satu kebuayaan yang sangat santun dan satu santun namun keras. pertemuan dua kebuayaan ini hanya bisa disatukan oleh satu indentitas berupa bahasa kalau tidak ada bahasa pemersatun maka penulis merasa sangat sulit. Kesulitan itu, perlu dijawab dengan suatu penjelasan bahwa perbedaan itu tidaklah menjadi suatu jalan permusuhan namun perbedaan itu ilah jalan persatuan.

Patu MBOJO Parafu Parewa

 Patu Mbojo Parafu Parewa Patu Mbojo ialah karya masyarakat Mbojo yang merupakan seni pantun daerah, yang menciri khas daerah babuju (daerah yang penuh dengan perbukitan) di Nusa Tenggara Barat sebagai tradisi lisan masyarakat kalau dalam sejarah adalah sejarah lisan. Patu Mbojo memiliki kaidah penulisan sendiri yang membedakan dengan pantun di Daerah lain, isi dari Patu Mbojo dapat membentuk karakter dari penyampai dan pendegarnya dengan syair yang didalamnya berisi nasehat, rasa kagum, dan menyindir yang dapat memotivasi. Pada sejarah Mbojo perkembangan Patu Mbojo tidak bisa dipisahkan dari seni musik khas Mbojo dengan diiringi musik Biola, Kecapi, Gambus  sebagai ranah media hiburan,  . tentunya alat musik ini adalah alat tradisional yang membentuk karakter masyarakat Mbojo. sebagai salah satu seni yang menjadi kesukaan masyarakat. sehingga menjadi suatu kebiasaan baik bagi masyarakat. Masyarakat Mbojo mengenal Patu sebagai media pendidikan, dalam ranah budi peker...

GANTAO VERSI-VERSIAN

GANTAO VERSI-VERSIAN Budaya merupakan suatu kebiasaan masyarakat yang memiliki nilai estetik, keyataanya budaya banyak versi budaya baik dlam tara seni, lukisa, novel, prosa, yang selalu direduksi dalam suatu komunitas budaya, ada jaga dalam sisi kepercayaan,  dimana dalam masyarakat ada suatu kepercayaan animisme dan nidamisme, yang tentu sudah melahirkan suatu bentuk budaya yang memiliki nilai reliji, yang sangat tinggi.  tapi penulis disini melihat budaya dalam kondisi seni, seni banyak orang menggangap seni adalah sesuatu yang indah, cantik, ganteng, wah. yang saya pahami seni itu tidak pada rasah kendahan melainkan dalam ranah yang lebih kompleks dimana melihat suatu budaya salah satunya Mpaa Gantao, didalamnya terdapat banyak atraksi, tentu kajiannya melihat permainan Gantao dari segala sisi, baik kegunaan gantao ini untuk apa bagi masyarakat, baik dalam ranah, sosial, ekonomi, pendidikan bahkan keagamaan. tentu harus dikaji semuanya, agar menghasilkan makna yang san...